Kampus*

whatsapp-image-2016-09-29-at-21-25-22-904x580

Suatu sore saya sedang duduk santai di pujasera Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember. Sore yang landai dan cuaca yang tidak buruk. Ditemani dengan geliat para mahasiswa baru yang sedang melatih kemampuan mereka menyanyikan yel-yel untuk kegiatan OSPEK, sore itu saya memikirkan banyak hal. Mulai dari harga rokok idola saya yang mulai naik walaupun tak sampai harga 50ribu, tapi tetap saja naik. Lalu tentang masa studi yang sudah kelewat batas, tentang kehidupan percintaan dan yang paling mengganggu adalah tentang pembubaran diskusi Marxisme dan Kekerasan 65 yang diadakan oleh kawan-kawan Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Kota Malang.

Diskusi keilmuan yang diadakan oleh kawan-kawan aktivis pers mahasiswa di Malang itu sempat berpindah tempat sebelum pada akhirnya dibubarkan oleh beberapa oknum. Seperti yang tertera dalam rilis yang dibuat oleh PPMI Kota Malang, diskusi seharusnya dilaksanakan di Universitas Islam Malang (Unisma) tapi karena beberapa hal, pihak kampus Unisma mencabut izin kegiatan tersebut.

Padahal sebelumnya Pembantu Dekan (PD) III Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unisma memberikan izin pada tanggal 28 September. Lalu tanpa ada dusta di antara kita, pihak kampus Unisma mencabut izin acara dengan alasan kurangnya proposal dan hal administrasi lainnya. Sebwa kengerian. Apa salahnya sih bikin diskusi di kampus? Sampai-sampai pihak kampus harus mencari sebab serta mencari alasan agar bisa menggagalkan diskusi tersebut?

Padahal menurut saya tema diskusi yang diusung oleh kawan-kawan PPMI Kota Malang sangat menarik. Menurut saya lho, sebagai seorang mahasiswa yang sudah enam tahun di kampus dan belum juga lulus. Saya rasa tema tersebut juga seharusnya sangat menarik untuk para birokrasi kampus yang derajat keilmuannya (mungkin) lebih tinggi daripada mahasiswanya. Lantas, kenapa pihak kampus Unisma membatalkan atau lebih tepatnya saya sebut mencabut izin kegiatan tersebut?

Diskusi keilmuan seperti yang diadakan oleh kawan-kawan PPMI Kota malang tersebut seharusnya mendapatkan dukunganpihak kampus. Tapi kok malah dibatas-batasi, malu sama kucing, Pak, Bu! Sarana prasarana di kampus itu diperuntukkan buat mengasah ilmu dan wacana serta intelektualitas seseorang. Lha kok njuk gawe diskusi dengan embel-embel Marxisme saja sudah dipersulit. Terus mau dijadikan tempat apa kampusnya itu? Ini bukan cuma Unisma lho, sebelumnya sudah terjadi di kampus-kampus lainnya. Seperti yang ditulis oleh kawan saya Taufik Nurhidayat, “Mahasiswa Unnes dilarang demonstrasi, mahasiswa UNY dilarang menyanyi Darah Juang, lalu mahasiswa UMY dilarang membuka ruang baca.” Nah, sekarang ditambah sama mahasiswa Unisma yang izin acaranya dicabut.

Mau dibawa ke mana hakikat kampus kita?

Saya salut dengan kawan-kawan PPMI Kota Malang, mereka tetap berusaha untuk mengadakan diskusi tersebut. Kalau sarana intelektual melarang, maka masih ada jalan lain. Diskusi tersebut dipindahkan ke Warung Kopi Albar. Diskusi bisa berjalan tapi tidak sampai selesai, kawan-kawan harus menghadapi oknum lain atau mungkin oknum yang juga mengintimidasi pihak kampus untuk menggagalkan acara tersebut. Beberapa oknum ingin menghentikan acara diskusi tersebut, saya penasaran dari mana asal usul para oknum tersebut. lalu apa yang membuat mereka menginginkan diskusi dihentikan. Karena Marxisme atau karena kekerasan pasca 65? Hari gini masih phobia sama Marxisme dan isu 65, sepertinya ada bagian tubuh yang harus di-upgrade deh.

Takut kok sama ideologi tua macam Marxisme. Takut itu sama tuhan. Istigfar bapak atau ibu, tuhan maha besar dan maha mengetahui. Tuhan tinggal bilang Kun Fayakun bumi bisa gonjang-ganjing. Lha, Marxisme? Bisa apa Marxisme di tengah kepungan kapitalisme macam sekarang ini? Boro-boro bisa bikin gonjang-ganjing, menyadarkan pemuda-pemudi dari kegilaan berbelanja saja sudah pontang-panting kok. Bukan begitu Gus Roy Murtadho? Benarkan saja jika saya salah.

Bapak oknum yang saya cintai sebagai sesama manusia ciptaan tuhan paling seksi, apa yang dilakukan oleh kawan-kawan saya di warung Kopi Albar itu cuma diskusi lho. Iya cuma diskusi, bukan menyebarkan kebencian atas nama tuhan, macam beberapa orang yang biasa kita temui di isu-isu sektarian. Atau jangan-jangan bapak oknum bagian dari mereka? Aduh repot kalau sudah begini. Mau jelaskan pakai teori ndakik-ndakik takut situnya ga ngerti, pakai cara halus menjelaskan juga tetap dibubarkan. Kalau begini terus, aku tak kan tahan.

Di kampus diskusi dilarang, di luar kampus dibubarkan. Terus ngapain itu nongol pasal 28 UUD 1945 tentang negara yang menjamin setiap warga negara untuk berkumpul dan menyampaikan pendapat secara bebas dan bertanggung jawab? Ngerti kagak sih ada Undang-Undang yang mengatur? Eh, itu pihak kampus ngerti kagak? Katanya tempatnya para intelektual dan guru besar? Intelektual dan guru besar masa gitu.

Seharusnya kampus melindungi hak-hak mahasiswanya dong. Mahasiswa bikin diskusi ya difasilitasi dan dijaga biar aman, bukan malah dicabut izinnya karena intimidasi oknum dari luar, ups. Bukan juga seperti kampusku tercinta, Universitas Jember. Kegiatan mahasiswa kurang diperhatikan tapi semangat banget kalau kampusnya dipakai sebagai tempat pemberangkatan dan penyambutan jamaah haji. Itu kampus apa asrama haji ya?

Apa sebenarnya yang ditakutkan oleh kampus-kampus besar dengan melarang kegiatan-kegiatan komunal dan berbau penyebaran wacana yang diadakan oleh mahasiswanya? Apakah kampus takut para mahasiswanya menjadi pintar? Nah, bukannya kampus ada tujuannya untuk menjadikan mahasiswanya pintar? Seharusnya kampus bangga dongkalau mahasiswanya mau bikin diskusi. Itu artinya para mahasiswanya haus wacana dan mau cari wacana sendiri, tidak selalu menggantungkan diri ke para dosen pengajarnya. Mau pintar masa dilarang, sih? Atau takut kalau nanti mahasiswanya pinter, lantas mengetahui jika kampusnya punya borok yang tertutup oleh kulit luarnya?

Lantas apa bedanya kampus dengan oknum-oknum yang membubarkan diskusi dan melarang membuka perpustakaan jalanan? Masa kampus cuma mau enak dilihat tampilannya saja, tapi di dalamnya menyimpan apa yang sering disebut sebagai intoleranisme. Kalau memang begitu, saya sepertinya sudah salah mengambil keputusan untuk terus melanjutkan studi saya hingga berjalan enam tahun. Saya telat mengambil keputusan untuk segera keluar dari kampus. Nanggung jeh mau keluar sekarang, setahun lagi akikah lulus.

Tapi di samping semua pertanyaan serta pernyataan saya tentang kampus yang mulai tidak menyenangkan, saya sekali lagi salut dengan usaha kawan-kawan PPMI Kota Malang. Tak perlu mengamini Chairil Anwar bahwa sekali berarti, sudah itu mati. Kenapa cuma sekali kalau bisa berarti berkali-kali, bukan begitu jamaah?

Saya jadi ingat, dulu juga pernah berhadapan dengan beberapa oknum yang membubarkan acara pemutaran film Senyap di Universitas Muhammadiyah Jember yang diadakan oleh kawan-kawan pers mahasiswa dan pegiat film di Jember. Saya juga mengingat bahwa kemarin tanggal 30 September dan hari ini adalah hari besar bagi mantan presiden kedua Republik Indonesia.

Lalu tetiba sore saya yang benar-benar landai kemarin dibuyarkan oleh sebuah pesan singkat yang masuk ke gawai; “Ada info pemutaran film yang ada hubungannya dengan PKI tidak? Ada Intel Kodim mau ngorek informasi dateng ke rumah.”

Selamat Hari Kesakitan Pancasila!

*) tulisan ini pertama kali dimuat di siksakampus.com dengan judul Mau Dibawa Kemana Kampus Kita?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s